Langsung ke konten utama

Let Me Back To You, Pangeran


            Kamu tau apa yang paling sakit dari seluruh rasa sakit yang pernah kurasa?

Dituntut untuk menjadi dewasa, dituntut untuk tegas, dan diharuskan melepaskanmu padahal aku sangat tidak ingin.

Jujur, kesannya memang aku sangat kecewa. Tapi di balik itu semua, sebenarnya rasa sayangku jauh lebih besar dari kecewaku yang memang besar.

Kadang aku masih bertanya-tanya, pantaskah hubungan kita ini dipertahankan? Sedangkan aku merasa di dalamnya hanya ada aku.

Ketika mengingat kenangan dulu, awal aku bertemu denganmu, alasan kita menjalin hubungan, rasnya aku egois jika memutuskan untuk berhenti.

Apakah aku bisa hidup dengan hari-hariku yang tanpanya? Bisa. Hanya saja, aku tidak ingin. Kamu lukaku, kamu juga penyembuhnya. Kamu penyemangatku. Kamu support systemku.

Semalam suntuk aku menjadi wanita yang lemah, menangisimu yang telah kulepaskan secara sepihak.

Dengan segala pesan yang terus menerus masuk darimu, panggilan-panggilan yang terpaksa kuabaikan.

Ingin sekali aku membalas pesan-pesan dan menjawab panggilan itu, tapi egoku menahanku.

Penyesalan...

Datang dimana ketika aku merasa goyah kembali, apakah ini keputusan yang tepat atau hanya egoisme sesaat.

Tapi semuanya sudah terjadi. Gengsi menguasaiku lebih besar dari penyesalanku.

Benar-benar menyesal.

Begini ya rasanya meninggalkan.

Andai saja kamu memberiku kesempatan untuk kembali.

Aku sayang kamu, dengan sepenuh hatiku dan seluruh jiwa ragaku, Pangeranku.


Malang, 25 Maret 2021


Ava

Komentar