Langsung ke konten utama

Sebuah Kisah Tentang Seorang Pangeran

 

            Anan. Sebuah nama yang berhasil singgah di hatiku dikala saat itu sedang rapuh. Entah darimana datangnya tapi rasa itu tiba-tiba seperti terlahir kembali bagaikan bayi yang bersih dari segala macam noda kesedihan. Menghapus beberapa puing luka dan menggantinya dengan potong demi potong kebahagiaan. Memberi kesan bahwa apa yang selama ini dibuang ternyata adalah sesuatu yang sangat pantas untuk dihargai. Membawa harapan dikala seakan sudah tak ada lagi harapan. Membawa secercah cahaya dalam kegelapan hatiku. Anan. Kehadirannya tiba-tiba, tanpa sedikitpun ditolak oleh pemilik rasa.

            Berawal dari saling memberi kepercayaan yang dibuktikan dengan curahan hati. Berlanjut hingga beberapa waktu, dengan topik berbeda setiap harinya. Tidak pernah bosan, tidak pernah ingin saling mengakhiri. Begitulah kisah ini dimulai. Tumbuh bersama dengan kasih, tak luput juga bumbu-bumbu konflik menyertai. 11 Oktober 2020, terimakasih telah hadir sebagai saksi awal mula perjalanan ini.

            9 bulan bukan waktu yang singkat untuk sebuah hubungan perkenalan. 9 bulan juga bukan waktu yang singkat jika sekedar untuk main-main. Hari ini, di tanggal yang sama dengan 4 bulan lalu, hari dimana untuk kedua kalinya ego ingin kembali mendominasi pikiran untuk berhenti menulis sebuah kisah indah. Entah ini memang sebuah kebetulan, tapi aku benci tanggal 24.

            Telah banyak kisah pilu yang sebenarnya tidak ingin aku ceritakan karena mengingatnya saja bagaikan menaburi garam di atas luka. Yang perlu kamu tau hanyalah betapa besarnya rasaku padamu. Aku tidak ingin lagi mengungkit luka yang sudah berlalu. Tapi sayangnya, ketika aku benar-benar menyayangimu, kau seolah menjaga jarak denganku. Andai kamu tau seberapa peka perasaan seorang wanita atas segala perubahan yang terjadi pada pasangannya. Perempuan itu sensitif. Bahkan sesuatu yang mati-matian kau tutupi, wanitamu itu akan tetap berprasangka, hanya saja tidak ditampakkan dan menunggu semuanya terungkap dengan sendirinya.

            24 Maret 2021, hari dimana aku memutuskan untuk menyudahi kisah kita, menguatkan diriku sendiri untuk tidak lagi terjerumus oleh kata-kata maafmu. Tapi nyatanya karena dirimulah aku memutuskan untuk kembali. Asal kamu tau, yang seperti itu bukanlah aku. Aku melanggar prinsipku karena dirimu. Karenamu, aku sudah bukan aku lagi. Tapi aku sama sekali tidak menyesali keputusanku untuk kembali. Hingga saat ini pun, malah semakin bertambah rasa sayangku padamu.

            Dan hari ini, 24 Juli 2021, bodohnya aku, di tengah heningnya pagi buta, egoku kembali ingin memutuskan sesuatu yang tidak seharusnya. Tapi hatiku tau, perkara lelah, bukan berarti harus berhenti. Jujur, aku memang kehilangan sesuatu darimu, sangaat tidak nyaman. Tapi aku juga harus mengalah kali ini. Karena 24 Juni 2021, kamu kehilangan seseorang yang sangaat berarti dalam hidupmu.

            .

            .

            .

            Maaf saat itu aku yang harusnya ada disampingmu, malah tidak bisa ada saat kamu butuh aku. Jujur, pengen banget pergi saat itu juga, buat nemeni kamu. Sempat hilang akal saat dapet kabar duka waktu itu. Terpukul. Pengen banget kesana. Kamu tau? Aku udah siap-siap mau berangkat. Sempat izin mama buat berangkat, sambil nangis via telfon waktu itu, sangking pengennya dateng nemenin kamu. Tapi nyatanya, aku gapunya keberanian buat nekat berangkat. Aku takut, kamu yang kena dampaknya di kemudian hari J.

            Tiap kamu menampakkan sedihmu, kembali lagi saat itu juga aku pengen berangkat. Tapi aku tak berdaya, dengan kondisi sekarang, perjalanan 4 jam itu bukan mudah. Cuma bisa menenangkanmu via chat. Cuma bisa menenangkan diriku sendiri lewat nangis. Hampir setiap waktu selama 2 hari aku seperti itu. Mengurung diri di kamar, mikir, harusnya aku gimana, kepikiran karena gabisa kesana, ujung-ujungnya nangis. Cuma itu yang bisa tak lakuin.

            Kadang kalo diem kepikiran, nyesel, kenapa waktu kesana nggak nemuin ibuk dengan baik. Nyesel kenapa waktu ditawarin ngomong sama ibuk aku nolak. Aku pun kehilangan.. bukan cuma kamu. Walaupun ketemu sekali, rasanya ibuk udah jadi bagian hidupku. Ya gimana enggak? Tiap malem kalo vc kamu selalu ada ibuk J.

            Kamu tau kenapa waktu pulang dari Pacet aku maksa minta pulang? Karena aku tau kalo aku nggak segera pulang, kamu juga nggak akan pulang kan? Sedangkan ibuk udah sakit dari lama tapi kamu waktu itu nggak pulang, karena ada aku di Surabaya J. Aku seneng kok kamu nggak pulang, aku seneng bareng sama kamu terus. Tapi karena itu juga aku merasa bersalah sama ibuk, sama kamu. Gara-gara aku. Harusnya kamu udah sama ibuk waktu itu. Harusnya kamu udah nemenin ibuk dari lama. Maaf.. tapi aku akan tanggungjawab kok J. Aku bakalan nemenin kamu sampe kamu udah nggak butuh lagi orang kayak aku. Aku bakal jadi orang yang bikin kamu seneng, bikin kamu bangga, bikin kamu lupain kesedihan-kesedihanmu. Aku bakal jadi orang yang selalu ada buat kamu. Aku akan bertahan apapun keadaannya J. Aku nggak akan pergi sebelum kamu yang nyuruh aku pergi. Karena kamu lebih milih aku daripada ibuk waktu itu J. Aku nggak akan sia-siain kamu.

            Udah, segini aja dulu. Nulis kisah gini juga butuh tenaga karena harus nangis diem-diem biar ga ketahuan orang rumah J. I love u, Pangeranku.

 

Malang, 24 Juli 2021

 

Ava

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm Your's, You're Mine, Anu

Halo! Mau bagi cerita nih Tahun lalu aku didekatkan sama salah satu makhluk Allah ini Dia temenku, tempat curhatku, tempat ngeluhku Dia tau semua masalahku, semua tentang aku Karena aku orangnya terbuka jadi semuanya aku ceritain Aku beda sama dia Kayak langit dan bumi, jauuuuuuhhhhh Dia itu makhluk pendiam, pemalu, sabar, introvert Beda pol kan sama aku, 180 derajat Tapi dari situlah, kita bisa bertahan Karena perbedaan itu, kita saling lengkapi satu satu Dari yang dia pendiem, setelah ketemu sama aku dia jadi cerewet Dari yang aku barbar, ketemu dia jadi kalem Dia itu lucu, random Dia baik, baiiikkk sekali Dia juga sabar, sabaaarrrr banget Sejauh ini, dia marah yang bener-bener marah bisa diitung Itupun karena emang aku bikin salah yang bener-bener salah Dia pun marah juga karena dia mau benerin aku, bukan karena ego Dia bukan manusia yang egois Tapi dia juga bukan manusia yang peka wkwk Aku tau aku terlalu jahat buat dia Setiap...

Masih Awal Desember Loh Ini :)

              Akhir-akhir ini banyak yang berubah ya.. J memang, ternyata manusia itu selain gampang lupa juga gampang berubah. Makanya itulah kenapa Sayyidina Ali pernah bilang kalo jangan pernah berharap sama manusia. Yang salah bukan manusianya kok, tapi harapannya, ekspektasinya yang terlalu tinggi J buktinya, udah seringkali loh kejadian, tetep aja dilakuin. Berharap. Berkespektasi.             Trus, emang gini ya. Dulu aku sering banget denger, cowok itu manis di awal doang. Hahaha lucu memang. Minta maaf hanya sekedar formalitas karena gamau bertengkar, kata-kata sayang bahkan nadanya sudah tidak setulus dulu J . Dulu ga bales chat bentar udah di spam in, sekarang bahkan seharian aja mana ada dicariin.             Selain kamu, aku juga sama, trauma dengan kehilangan. Kehilangan seseorang yang paling berarti...

Ke-15

Assalamualaikum.. Apa kabar? Semoga sehat, bahagia, dan selalu dalam lindungan Allah 😇 Sekian lama, menurutku, hubungan kita sedang tidak baik. Aku akui itu kesalahanku Entah mau bagaimana caraku meminta maaf, mungkin masih sulit buat pean menghilangkan rasa kecewa itu Aku harap, kita bisa ketemu, membicarakan ini baik-baik. Yaah tapi mungkin sekarang kondisi sedang tidak berpihak pada kita Tapi aku yakin, suatu saat pasti kesempatan itu datang, entah kapan, tapi akan selalu aku tunggu Entah sudah berapa kali aku bikin pean nahan perasaan jengkel, marah, keselnya pean Tapi sungguh, aku tidak bermaksud berbuat seperti itu Nda ada sama sekali dalam pikiranku bikin pean sakit hati Itu semua diluar kendali ku Emosi ku menguasai pikiranku Bahkan untuk diriku sendiri, aku belum bisa mengendalikan emosi itu Semua tekanan, kekangan, dan apapun yang aku berikan buat pean, demi Allah aku nda bermaksud seperti itu Hanya mungkin caraku sayang sama pean itu yang salah, sehingga terjad...